PEKANBARU KOTA TAK BERTUAN
Sabtu, 18-06-2016 - 10:43:13 WIB
Oleh: Azizon Nurza
(Luahan Marah Anak Jati Melayu Riau)

PEKANBARU
Kota Sampah!  Itu adalah sebutan yang paling layak dan paling pas diberikan kepada Kota Pekanbaru, yang dulu katanya ''Bertuah'' lalu berubah jadi ''Madani''.

Pekanbaru makin hari makin tidak menentu, sampah berserak di mana-mana menabur aneka warna dan aroma. Di setiap sudut, simpang, dan jalan berjejer pedagang kaki lima yang lupa akan adat dan budaya hidup di kota. Berjualan sesukanya, membuang sampah seenaknya, dan bertingkah laku tidak ada sopannya. Pokoknya, Pekanbaru saat ini sangatlah pantas disebut kota seribu satu aroma.

Pekanbaru juga kota maksiat, judi berserakan dan bertebaran dengan segala bentuk, jenis, dan beragam alatnya; mulai dari yang memakai dadu guncang sampai yang taruhannya beruncang-uncang.

Di sisi lain, gemerlap kota maksiat dihiasi pula dengan kegiatan prostitusi mulai dari yang terselubung sampai yang terkangkang-kangkang, terdedah, dan ternganga. Banyak mahasiswa bertekad memusnahkannya, dan tidak sedikit pula yang mencari makan dari sana. Saya yakin, di kalangan mahasiswa bukan lagi cerita lama.

Pekanbaru juga Kota Narkoba. Setuju atau tidak, yang jelas di kota ini untuk mendapatkan narkoba juga tidak susah. Berpuluh-puluh seminar dan penyuluhan, saya lihat hanya habis untuk mencari nama dan menabur proposal kepada perusahaan-perusahaan bermasalah. Di sisi lain, segala aktivitas dan upaya penanggulangannya tidak pernah mencapai akar permasalahan sebenarnya. Seharusnya, gerakan penyadaran dan pemberantasan narkoba harus berangkat dari diri generasi muda itu sendiri. Bukan hanya sekadar penyuluhan, seminar, dialog atau pamflet maupun spanduk. Dan yang lebih lucu lagi, jika ternyata beberapa pentolan tokoh atau yang di panggung-panggung organisasi sibuk bicara pemberantasan narkoba, ternyata pencandu dan pencinta narkoba itu sendiri.

Semrawut dan amburadul, juga melekat di diri kota tercinta kita ini. Tengok saja ulah pengemudi bus kota dan oplet atau angkot, serta pedagang kaki lima. Semuanya seenak perut: berhenti sesukanya, membawa penumpang sebanyak-banyaknya, rute dianggap tidak ada, dan membawa mobil secepat-cepatnya. Pokoknya, kota ini sudah benar-benar menjadi kota yang tidak ada tuannya.

Kalau kita cermati, sebenarnya penduduk kota ini, pejabat kota ini, dan nilai budaya yang melekat di kota ini sepertinya sudah mati. Pekanbaru sudah kehilangan identitas dan jati diri. Predikat Kota Bertuah perlu ditinjau ulang, dikaji, dibahas, dan diseminarkan lagi. Kepada setiap warganya disensus dan didata kembali dengan satu buah tanda tanya besar yang harus diisi, ''Anda warga Pekanbaru atau bukan? Anda sadar tak ini bumi Melayu?''

Saya memandang jawaban ini sangat penting untuk ditanyakan. Sebab, permasalahan mendasar terletak di situ. Kita semua pasti sepakat bahwa Pekanbaru adalah kota yang beragam, baik dari segi suku, adat, dan budaya. Tapi adat hidup merantau ''di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung''. Kota Pekanbaru banyak dimanfaatkan oleh saudara-saudara kita dari sekitar Provinsi Riau sebagai ladang perburuan harta, kekayaan, dan masa depan. Moto ''Pekanbaru Kotaku, Kotamu, dan Kota Kita'' hanya sekadar jorgan dan tanpa makna. Keikhlasan untuk sama-sama memiliki, menjaga, dan membangun kota ini jelas tidak ada.

Kalau mau jujur, saudara-saudara kita yang proses akhir dari aktivitasnya banyak menghasilkan sampah, seperti jualan makanan dan dagangan, sedikit pun tidak mau berperan serta bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahan kota kita. Ada tetangga saya yang berasal dari provinsi tetangga dan saat ini juga masih mengagung-agungkan daerah asalnya berkata, ''Pekanbaru ini sangat jorok, tidak seperti kampung kami yang selalu bersih, indah, dan mendapat anugerah Adipura''.

Kalau mau jujur, yang mengotori, yang mengkuahi dan memberi aroma kurang sedap di kota ini adalah mereka juga. Itung saja berapa persen penduduk yang mengaku Melayu di kota ini, berapa persen di antaranya yang aktivitas usahanya akan berpotensi untuk mengotori, mengkuahi, dan memberi aroma terhadap kota ini? Dan mari kita data para pengemis yang tersebar di setiap sudut kota. Dengan segala kerendahan hati saya meminta tolonglah menghargai dan memahami kami, dan jauh-jauh hari kami orang Riau telah membuka diri terhadap orang Riau yang beridentitas Kemelayuan, tapi malah menjadi corong untuk menjelek-jelekkan Riau.

Saya juga punya pengalaman sewaktu kuliah di Fakultas Perikanan Universitas Riau. Seorang dosen yang berasal dari Riau dan berpuluh tahun bermukim dan mencari makan di Riau, dalam perkuliahannya menjelek-jelekkan identitas ke-Riau-an kami. Tapi, yang bikin saya tidak habis pikir, pada saat rakyat Riau sibuk bercakap masalah putera daerah dan putera tempatan, dia pun bertanya, ''Apakah saya bukan orang Riau, sedangkan saya sudah puluhan tahun beranak pinak di Riau?''

Jadi, upaya paling mendasar untuk memerangi sampah, judi, prostitusi, dan berbagai penyakit yang menggerogoti Pekanbaru harus mulai dari warganya sendiri, dukungan, kesadaran, dan partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan.

Namun, pemerintah dan aparat penegak hukum juga tidak boleh tinggal diam. Untuk itu, hukum dan aturan yang telah dibuat harus ditegakkan. Aturan main harus dijalankan, dan yang bersalah haus dihukum tanpa memandang itu keluarga, sekampung, sesuku ataupun seagama. Kebulatan tekad untuk sama-sama membangun dan mengembalikan citra Pekanbaru sebagai Kota Bertuah yang mempunyai identitas dan kebudayaan Melayu, niscaya akan terwujud jika semua warganya mau sama-sama meleburkan diri dalam keluarga besar masyarakat Pekanbaru yang beridentitas Kemelayuan dan Keislaman.

Sebuah kata penutup untuk direnungkan bersama, ''Kami orang Riau selalu membuka diri agar tuan-tuan bisa menjadi bagian dari keluarga besar kami. Tapi, ada konsekuensi yang harus tuan-tuan ambil, lepaskan identitas asal-usul tuan-tuan dan meleburlah menjadi keluarga besar masyarakat Riau yang beridentitas Melayu Riau. Jadi, selagi tuan masih mempertahankan identitas nilai dan budaya asal yang bertentangan dengan kebudayaan Melayu Riau, sampai kapan pun tuan-tuan tidak akan pernah dapat menjadi bagian dari keluarga besat kami. Dan, tentunya tuan-tuan tidak akan pernah punya kesempatan menjadi putera daerah di Riau!''

 
 
Lainnya :
  • PEKANBARU KOTA TAK BERTUAN
  •  
     
     
    Kamis, 19-Mei-2022 | Jam Digital
    PEDOMAN MEDIA SIBER
    © 2015-2020 PEKANBARUSATU.COM, All Rights Reserved