Suyatno: Menjadi Pemimpin Idealnya Didasari Panggilan Moral
Senin, 12-10-2020 - 10:21:48 WIB
Suyatno. (f: int)

TERKAIT:
 
  • Suyatno: Menjadi Pemimpin Idealnya Didasari Panggilan Moral
  •  

    PROSES demokratisasi yang berlangsung di Indonesia telah memberi ruang yang cukup luas bagi semua orang untuk memilih dan dipilih, sebagai hak dan kewajiban setiap warga negara. Maka, jadilah ajang pemilihan pemimpin dengan berbagai jenjang dan tingkatannya itu “riuh-rendah” oleh orang-orang yang hendak berebut kekuasaan.

    Sesuatu yang sah-sah saja, memang. Yang kemudian menjadi persoalan, apa sebenarnya substansi dari kepemimpinan, dan pada titik apa saja seseorang dinilai layak untuk memegang posisi sebagai pemimpin?

    H. Suyatno AMP, Bupati Rohil (Rokan Hilir) periode 2016-2021, punya definisi menarik soal kepemimpinan. Menurut Suyatno, menjadi pemimpin haruslah didasari atas panggilan moral dan mengabdikan diri kepada negara, agama dan masyarakat. "Menjadi pemimpin itu merupakan sebuah tugas yang mahaberat, karena begitu banyak harapan rakyat yang tergantung pada kita,"  ujarnya, suatu ketika.

    Tapi menjadi tidak berat bila dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin dilaksanakan dengan penuh ikhlas, dan segala yang dilakukan didedikasikan untuk kepentingan daerah dan masyarakat. Kendati demikian, Suyatno juga mengingatkan: "Pertanggungjawaban sebagai pemimpin tidak hanya di dunia, tapi juga sampai di akhirat," tambah Suyatno, yang maju lagi di ajang Pilkada Rohil 2020.

    Bertolak dari pemikiran itu, ketika diberi amanah memimpin Rohil periode 2016-2021 berpasangan dengan Djamiluddin di posisi wakil bupati, Suyatno lebih cenderung menerapkan manajemen partisipatif dalam tata kelola pemerintahan yang ia pimpin, karena ia menyadari bahwa proses pembangunan itu pada dasarnya “dari, oleh dan untuk masyarakat.”

    Manajemen partisipatif, menurut Suyatno, akan memberi ruang yang luas bagi semua komponen masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam urusan pembangunan, pemerintahan, dan kemasyarakatan. “Karena pemerintah memiliki sumber daya dan dana yang amat terbatas untuk memikul semua beban tugas itu,”  tambah suami Hj. Wan Mardiana, yang telah memberinya sejumlah anak: Arie Sumarna, Ade Sumarna, dan Tiara Sumarna.

    Tak mudah menjalankan manajemen seperti itu. Di saat tingkat apatisme masyarakat cenderung makin tinggi terhadap persoalan-persoalan pemerintahan, bagaimana pula merangkul masyarakat untuk ikut ambil bagian secara aktif? Tapi Suyatno menafikan hipotesa itu. Dikatakan, selagi masyarakat merasakan manfaat dari pembangunan, maka pada saat bersamaan diniscayakan akan muncul panggilan moral untuk ikut ambil bagian.

    ''Sejatinya, aparat pemerintah itu adalah pelayanan masyarakat,” tambahnya. Namanya saja pelayan, ungkap Suyatno, aparat harus paham tentang apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.  “Jangan mentang-mentang kita aparat, lalu menyusun program sesuka hati tanpa memedulikan kebutuhan masyarakat, ini hanya akan membuat jarak yang lebar antara rakyat dan aparat pemerintah.''

    Di bawah ini dipaparkan sejumlah kiprah dan sepak terjang Suyatno selama menjabat Bupati Rohil, didampingi Djamiluddin di posisi Wakil Bupati Rohil.

    *Memrioritaskan Pembangunan Infrastruktur*
    Suatu ketika Bupati Suyatno berujar: “Orang Panipahan dalam kondisi harus mendapat perhatian serius,” katanya. Ia kemudian melanjutkan: “Kubu juga masih tertinggal. Kita tidak bisa membiarkan saudara-saudara kita meratapi nasib mereka sendiri. Pemerintah harus segera turun tangan.”

    Maka, inilah buahnya: Pemkab Rohil menggesa pembangunan sejumlah infrastruktur dasar, seperti pembangunan Jembatan Padamaran I dan II, pembangunan jalan pesisir, pembangunan kantor pemerintahan yang terintegrasi, pembangunan jalan penghubung antarkecamatan, pembangunan sekolah, puskesmas, kantor kecamatan,  masjid, dan pembangunan lainnya.

    Pembangunan Jembatan Padamaran I dan II merupakan dua dari sekian banyak pembangunan infrastruktur megah di Rohil, yang dimulai sejak H.  Annas Maamun menjadi Bupati dan H. Suyatno sebagai Wakil Bupati. Kedua jembatan ini merupakan penghubung empat kecamatan di Rohil, yaitu Bangko, Pekaitan, Kubu Babussalam, dan Kecamatan Kubu. Kedua jembatan ini berfungsi sebagai urat nadi perekonomian di empat kecamatan itu.

    Untuk mendukung kedua jembatan megah ini, Pemkab Rohil membangun jalan raya pesisir. Sama dengan Jembatan Pedamaran I dan II,  jalan raya pesisir juga menghubungkan empat kecamatan di Rohil, yaitu Bangko, Pekaitan, Kubu Babussalam, dan Kecamatan Kubu.

    Buah dari serangkaian kebijakan pembangunan infrastruktur itu, suatu ketika Bupati Suyatno berucap: “Kita telah membuktikan bahwa daerah semacam Pasir Limau Kapas mulai bergerak ke arah perubahan setelah infrastrukturnya dibenahi. Sinaboi juga menunjukkan arah menggembirakan setelah jalan Sinaboi-Bagansiapiapi di aspal,” katanya. Lihatlah, tambah Bupati, warga setempat jauh lebih mudah membawa hasil alam seperti padi, sawit, dan palawija. Termasuk hasil laut.

    Kabupaten Rohil juga memiliki kantor pemerintahan yang terintegrasi, yang berpusat di Batu Enam. Kantor Bupati terintegrasi dengan Kantor DPRD dan 20 kantor dinas/badan yang ada di Rohil. Dengan sistem perkantoran yang terintegrasi, pimpinan negeri ini berharap kantor dinas/badan dapat memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. Proses administrasi dan birokrasi yang panjang dan bertele-tele bisa dipangkas.

    Pada masa kepemimpinan Bupati Suyatno, Kantor Bupati megah yang terletak di Batu Enam sudah bisa ditempati oleh aparatur sipil negara. Begitu pula halnya dengan sejumlah perkantoran lainnya, hampir semuanya sudah ditempati dan dimanfaatkan untuk melayani aneka kebutuhan pelayanan masyarakat.

    *Bangun Pendidikan, Siapkan SDM Kualifaid*

    Kegamangan itu sejatinya milik semua daerah, tidak terkecuali Rohil. Gamang dengan potensi sumber daya alam yang ada karena terus dieksploitasi, sementara di sudut lain dihadapkan dengan angka pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Hanya ada satu opsi untuk itu: menyiapkan sumber daya manusia berkualitas melalui pendidikan.
    Lalu, apa pandangan Bupati Suyatno tentang pembangunan dunia pendidikan?  “Diharapkan dalam membangun dunia pendidikan juga soal membangun kesadaran bersama atas pentingnya pendidikan untuk masa depan negeri,” kata Suyatno. “Hanya dengan cara bergerak serentak, hasil terbaik akan dipetik dalam waktu yang tidak terlalu lama.”

    Tak dinafikan, faktor ekonomi menjadi salah satu kendala bagi anak-anak Rohil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pemkab Rohil menjawabnya dengan memberikan beasiswa. Setidaknya sekitar Rp6,5 miliar dana yang bersumber dari APBD yang dibagikan pemkab setempat ke para mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan D3 dan S1. Dana sebanyak itu diterima lebih dari 2.000 mahasiswa.

    Upaya cepat mengatrol kualitas dunia pendidikan di antaranya dengan mendata ulang kembali seluruh tenaga pengajar, termasuk guru honorer. Sejalan dengan itu, salah satu pos anggaran terbesar Rohil adalah untuk mendukung guru bantu. Tapi begitu badai krisis menerpa APBD Rohil, maka penertiban administrasi dipastikan sudah sangat mendesak untuk dilakukan.

    Dalam mengatrol kualitas pendidikan, Pemkab Rohil melakukan berbagai cara. Selain terus berupaya menambah pembangunan sekolah baru, di bidang fisik tengah diupayakan secara terus-menerus perbaikan sekolah yang sudah ada, menambah ruang kelas baru, upaya membangun suasana belajar dan mengajar yang lebih nyaman, membangun pustaka, labor, dan lainnya.

    Pemkab Rohil menganggarkan lebih 20 persen dari APBD untuk membangun bidang pendidikan, yang lebih tinggi dari kebijakan nasional. Jumlah tersebut kemudian juga ditambah dengan bantuan untuk pelajar yang kurang mampu, pemberian insentif dan dana bantuan belajar, serta menyekolahkan siswa-siswi berprestasi di berbagai perguruan tinggi nasional maupun luar negeri.

    *Membangun Akses ke Dunia Kesehatan*

    Karena menyangkut kepentingan orang banyak, kebutuhan akan sarana pelayanan kesehatan berikut tenaga medis pendukung merupakan sesuatu yang tidak putus-putusnya. Pemkab Rohil menyadari sepenuhnya hal itu, dan telah menempuh sejumlah langkah dan upaya yang diperlukan agar pelayanan kesehatan memiliki daya jangkau yang kian luas.

    Syukurlah, sejauh ini kabupaten itu sudah didukung oleh keberadaan unit-unit pelayanan kesehatan yang tersebar di seluruh kecamatan. Sejauh ini daerah itu terdapat sebanyak 14 rumah sakit pemerintah dan swasta, 19 unit puskesmas, puluhan unit pustu (puskesmas pembantu)  dan polindes. Ke semuanya rata-rata sudah didukung dokter umum dan dokter spesialis yang menetap, termasuk ratusan bidan perawat.

    Masih dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan dari sarana kesehatan yang ada, pemkab melalui Dinas Kesehatan meningkatkan status sejumlah pustu menjadi puskesmas dan puskesmas rawat-inap, terutama di kawasan-kawasan yang intensitas pelayanan pengobatan masyarakatnya dinilai tinggi. Di kawasan-kawasan seperti ini dibuat  keputusan untuk menyediakan pemukiman untuk para tenaga medis, termasuk dengan memberikan insentif berkala.

    Selain mengupayakan para tenaga medis betah bertugas di kawasan yang ditempatkan, Pemkab Rohil juga selalu mencari cara untuk meningkatkan kualitas tenaga medis yang ada. Jadi secara kuantitatif berupaya meningkatkan unit-unit layanan kesehatan, dan di sisi lain mengatrol kualitas pelayanan. Sejalan dengan itu, prasarana ditambah, kelengkapan fasilitas juga diupayakan untuk terus berkembang.

    “Daerah-daerah pelosok yang jauh dari jangkauan dan masih memiliki keterbatasan infrastruktur, sangat diutamakan,’’ jelas Bupati Suyatno. Di kawasan-kawasan seperti itu unit-unit layanan kesehatan yang ada fokus digesa mengingat warga akan sulit mengakses yang jaraknya relatif jauh dari perkampungan.

    Sejauh ini, sebanyak sembilan dari 19 puskesmas yang ada di Rohil sudah menerapkan sistem rawat-inap seperti di Kecamatan Rimba Malintang, Bangko Pusako, Bangko Kanan, Bangko Jaya, Pujud, Kubu Babussalam, Kubu, Baganbatu dan Panipahan. Sedangkan 10 puskesmas lainnya tengah diupayakan untuk ditingkatkan statusnya, seperti puskesmas di Bagansiapiapi, Bagan Punak, Pekaitan, Balai Jaya, Simpang Kanan, Sinaboi, Tanah Putih Tanjung Melawan, Rantau Kopar, dan lainnya.

    Perhatian juga diberikan kepada keberadaan pustu, semisal di Pulau Halang. Di Pulau Halang selama ini warga harus menggunakan pompong untuk dapat memperoleh layanan kesehatan. Pustu ini harus ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas yang memiliki fasilitas rawat-inap. Hal yang sama juga akan dilakukan pada pustu yang berlokasi di Kepenghuluan Sungai Daun, Kecamatan Pasir Limau Kapas.

    “Program ke depan yakni bagaimana puskesmas harus tampil kuat seperti memiliki fasilitas rawat-inap dan ketersediaan tenaga medis serta fasilitas penunjang yang memadai,” kata Bupati Suyatno. “Jika tidak begitu,  maka warga kita di pelosok-pelosok harus dirujuk ke Bagansiapiapi, Dumai atau Pekanbaru. Jika begitu, waktu yang terpakai akan menjadi lama dengan beban biaya transportasi yang juga cukup berat,” tambahnya.

    *Lindungi Petani, Pertahankan Swasembada Beras*

    Pemkab Rohil juga dihadapkan kasus besarnya keinginan begitu banyak masyarakat untuk alih fungsi lahan, dari lahan pertanian tanaman pangan ke perkebunan sawit dan perumahan. Sikap yang diambil Pemkab Rohil untuk mengerem keinginan yang begitu kuat itu adalah dengan cara melindungi petani padi, yang merupakan aset yang harus diselamatkan agar produksi beras di Rohil tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan daerah, bahkan kalau bisa surplus.

    Juga perlu perbaikan di setiap lini pertanian. Termasuk PPL (penyuluh pertanian lapangan), sangat diperlukan untuk mensukseskan program swasembada beras di Rohil. Sementara petani yang masih komit membudidayakan tanaman pangan, Pemkab Rohil memberikan apresiasi yang tinggi. Tak sampai di sana, Pemkab Rohil juga komit memberikan solusi untuk pemecahan masalah yang sering dihadapi petani saat penanaman padi maupun pasca-panen.

    Petani tidak perlu lagi memikirkan masalah lahan dan biaya untuk menanam padi, sebab Pemkab Rohil melalui dinas terkait akan bekerja keras mengakomodir kebutuhan para petani. Sejalan dengan itu, Pemkab Rohil masih memiliki lahan yang luas untuk bertani, yang bisa dimanfaatkan dan proses pengolahan lahan itu dilakukan secara berkelompok alias melalui kelompok tani. Kelompok tani ini akan ditopang koperasi yang didirikan oleh Pemkab Rohil.

    Pemkab Rohil melalui PPL akan intens memberi penyuluhan tentang penanaman padi. Petani juga akan diberi bantuan pupuk secara berkala untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi. Untuk menghadapi perubahan cuaca yang tidak menentu, Pemkab Rohil melalui dinas terkait membuat sistem irigasi terpadu untuk pengairan lahan. Penggunaan alat-alat pertanian modern juga digalakkan seperti traktor, hand traktor, dan alat pemanen padi.

    Untuk penanganan pascapanen, petani tidak perlu khawatir mengenai anjloknya harga gabah/beras. Pemkab Rohil akan berusaha maksimal menyerap hasil panen petani. Stok beras Rohil itu akan dipusatkan pada satu gudang penyimpanan beras yang terintegrasi dengan tempat penggilingan dan pengemasan. Untuk langkah awal, Pemkab Rohil akan menyalurkan beras tersebut pada ASN dan tenaga honorer di Rohil.

    Pemkab Rohil memang terus berupaya mendorong transformasi dari pola pertanian tradisional ke modernitas. Harus didapat cara efektif dan cepat supaya luasan sawah terus bertambah, bukannya berkurang. Karenanya kawasan sentra padi seperti Rimba Malintang, Kubu, dan Pekaitan harus beroleh perhatian lebih.

    Luasan lahan di Rohil yang mencapai 888 ribu hektare belum seluruhnya dimanfaatkan. Ratusan ribu hektare di antaranya masih menunggu sentuhan. Potensi pertanian yang besar tersebut tak hanya membuat pemerintah setempat percaya diri, namun sebaliknya juga senantiasa mencari cara agar kelak sisi pertanian muncul tak hanya dalam menaikkan taraf hidup warga, jauh lebih dari itu: membuka pusat perekonomian baru.

    Pengabdian Tak Bertepi------anak judul

    Suyatno telah mendedikasikan sebagian besar usianya untuk kepentingan orang banyak. Ia adalah samudera pengabdian yang seakan tidak berujung, tak bertepi. Pada keluarga, pada anak-isteri, dan kerabat terdekat;  terlebih kepada kepentingan orang banyak dan daerah. Hari-harinya lebih banyak dilalui dalam kerangka memberikan pengabdian terbaik untuk kepentingan orang banyak, sesuai kompetensi dan wewenang yang dimilikinya.

    Suyatno seperti ditakdirkan untuk menjadi “milik orang banyak.” Dilahirkan di Bengkalis pada 21 Juni 1957; kebanyakan hari-hari yang dilalui oleh Suyatno dalam rentang panjang sejarah hidupnya adalah rangkaian waktu yang ditumpahkan untuk memikirkan orang lain, memikirkan kepentingan daerah—tentu saja dengan tidak mengabaikan tugas dan fungsi utamanya sebagai seorang kepala keluarga.

    Cermatilah perjalanan hidupnya, yang sebagian besar didedikasikan untuk mengabdi di birokrasi pemerintahan –mulai dari level terendah sampai tertinggi-- yang notabene-nya melayani kepentingan publik.

    “Inilah garis tangan atau suratan takdir yang harus dijalani,” kata Suyatno, suatu hari. “Yang penting semuanya harus dilandasi keikhlasan, karena sejatinya hidup adalah rangkaian pengabdian,” tambah Suyatno.

    Suyatno meniti karier di lingkungan birokrasi pemerintahan dari jenjang terbawah. Pelan tapi pasti, ia akhirnya sampai juga ke puncak dengan dipercaya menjadi Wakil Bupati Rohil selama dua periode berturut-turut, mendampingi Annas Maamun untuk posisi bupati. Posisi wakil bupati ini pula yang menjadi "pintu masuk" bagi Suyatno untuk menjadi kepala daerah dengan menjabat sebagai Bupati Rohil.

    Suyatno memulai kariernya sebagai pegawai negeri sipil dengan menyandang golongan kepangkatan II/a pada Kantor Kesbangpol Kabupaten Bengkalis. Setelah menduduki berbagai jabatan di lingkungan Pemkab Bengkalis dan daerah pemekaran baru Pemkab Rokan Hilir, Suyatno digandeng H. Annas Maamun, Ketua DPRD Rohil kala itu, untuk maju di ajang pemilihan kepala daerah Rohil 2006. KPU Rohil kemudian menetapkan pasangan Annas-Suyatno sebagai pemenang Pilkada Rohil 2006, mengungguli empat pasang kandidat lainnya.

    Pada 2011, Pilkada kembali digelar di Rohil, dan Annas-Suyatno kembali maju dalam satu paket pencalonan. Ketika di banyak daerah kepala dan wakil kepala daerah terlibat konflik di tengah masa jabatan, Annas-Suyatno tetap mampu menunjukkan harmonisasi sehingga memutuskan kembali maju di ajang Pilkada Rohil. Lagi-lagi KPU Rohil menetapkan Annas-Suyatno sebagai bupati dan wakil bupati Rohil, kali ini untuk periode  2011-2016.

    Karena atasannya, Annas Maamun, maju di ajang Pemilihan Gubernur Riau 2013, kemudian dinyatakan terpilih sebagai Gubernur Riau periode 2013-2108, untuk mengisi kekosongan Kementerian Dalam Negeri menetapkan Suyatno sebagai Plt Bupati Rohil, yang ia jalani sejak 19 Februari 2014 hingga 24 Maret 2014. Pada 24  Maret 2014, Suyatno dilantik dan diambil sumpah jabatannya sebagai Bupati Rohil definitif.

    Pada ajang Pilkada Rohil 2016, Suyatno memutuskan maju sebagai calon bupati, dengan Djamiluddin sebagai calon wakil bupati. Pasangan Suyatno-Djamiluddin dengan gemilang berhasil memenangkan pertarungan, dan dipercaya memimpin daerah itu sampai 2021 mendatang.

    Ketika banyak pasangan kepala daerah yang mengalami “pecah kongsi’ di tengah masa jabatan, pasangan Suyatno-Djamiluddin tetap mampu menjaga harmonisasi hubungan sampai menjelang masa jabatannya  berakhir pada 2021 mendatang.

    Bahkan, pasangan ini kembali maju dalam satu paket pencalonan di ajang Pilkada Rohil 2020, buat membidik kursi bupati dan wakil bupati Rohil periode 2021-2026. Dengan diusung dua partai, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Amanat Nasional, pasangan yang akrab dengan panggilan Sudin Jilid II ini telah pula mengantongi nomor urut 2 peserta Pilkada Rohil 2020.

    Dalam Pilkada Rohil 2016, pasangan Suyatno-Djamiluddin (yang kemudian ditetapkan sebagai pemenang) juga memperoleh nomor urut 2.  “Di pilkada ini kita kembali mendapat nomor urut 2,” kata Suyatno usai  pengundian dan penetapan nomor urut pasangan calon bupati dan wakil bupati Rohil, Kamis (24/9/2020). “Partai yang mengusng kita juga dua, dan (untuk masa jabatan) periode yang ke-2 juga,” imbuh Suyatno. (dri)







     
    Berita Lainnya :
  • Suyatno: Menjadi Pemimpin Idealnya Didasari Panggilan Moral
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Siaran TV Digital Masih Menunggu Ekosistem
    2 Ini Data 104 Perusahaan yang Diduga Lakukan Alih Fungsi Lahan Versi Komisi A DPRD Riau
    3 Dinilai Sukses Membangun Pekanbaru
    Firdaus-Ayat di Mata Para Tokoh Riau
    4 Nestlé Koko Krunch Gelar Koko Olimpiade di 45 Kota
    5 Advertorial Pemko Pekanbaru
    2019, Pemko Targetkan Pekanbaru Terbebas dari Kawasan Kumuh
    6 Dewan Pengupahan Sepakati UMK Inhil 2017 Rp2.342.160
    7 Ini Harga iPhone 7 dan iPhone 7 Plus dari iBox!
    8 Advertorial Pemko Pekanbaru
    Lakukan Pemerataan Pembangunan dengan Pengembangan Kawasan Tenayan Raya
    9 Ada yang Menarik di Mesjid An-Nizham Pantai Raja Kampar, Ini Dia!
    10 Para Pasangan Calon di Pilwako Pekanbaru dan Pilkada Kampar Jalani Tes Kesehatan
     
     
    Kamis, 19-Mei-2022 | Jam Digital
    PEDOMAN MEDIA SIBER
    © 2015-2020 PEKANBARUSATU.COM, All Rights Reserved