Apakah Chevron Benar-benar Pergi?
Rabu, 11-08-2021 - 19:33:45 WIB

Oleh: Novrixon Burman

DIKHAWATIRKAN,
mental dan cara-cara Chevron dalam mengakomodasi kepentingan khasanah lokal diadopsi oleh PT. Pertamina Hulu Rokan (PHR). Stakeholder lokal dianggap angin lalu.
 
Meminjam istilah Dr dr H Chaidir MM, Ketua Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau, alih kelola Blok Rokan dikhawatirkan hanya perpindahan dari mulut buaya ke mulut harimau.

Diharapkan dengan peralihan ini terjadi perubahan paradigma perusahaan terhadap kepentingan entitas lokal.

Sebagai contoh, harus ada akomodasi yang menguntungkan daerah seperti vendor-vendor lokal, perusahaan lokal, melibatkan BUMD, prioritas tenaga kerja lokal, bagi hasil yang menguntungkan daerah, dan lainnya.

Tapi faktanya, mental lama itu masih bercokol.

Contoh yang mendahuluinya adalah, tidak dihargainya PT SPR Langgak sebagai representasi perusahaan lokal yang sudah melaksanakan prosedur-prosedur dalam pembelian pembangkit listrik Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) yang mayoritas sahamnya dimiliki Chevron Standar Limited (CSL).

Malah sekarang, tiba-tiba saja MCTN dibeli oleh PLN dalam sebuah lelang yang juga tiba-tiba.

Padahal, SPR Langgak yang sudah bertahun mengikuti prosedur dari awal, mengeluarkan biaya dan akomodasi, malah ambyar.

Kasus ini sedang dalam upaya hukum gugatan. Sepertinya pengaruh dan cengkeraman sebuah kekuatan di pusat, masih membekas.

Padahal, proses itu juga masih menyisakan bom waktu. Sebab, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK tahun 2006, MCTN ini bermasalah. Diduga, Chevron tidak berhak melelangnya.

Apa hak MCTN sebagai pihak mitra pengelolaan aset negara melelang sepihak aset negara? Bagaimana posisinya di hadapan regulasi kelistrikan (terkait saham MCTN tersebut dalam pembangkit listrik)? Dll.

Seharusnya, dalam masa peralihan diserahkan dengan itikad baik. Lantaran dari contoh di atas, dikhawatirkan ada aset lain dialihkan sebelum diserahkan.

Tadi pagi, kita baca pernyataan anggota Komisi VII DPR RI Abdul Wahid, yang isinya sangat bergizi untuk mendorong kekuatan daerah berpartisipasi dalam peralihan pengelolaan Blok Rokan ke Pertamina.

Blok Rokan semestinya dimaknai adalah milik Riau, bukan milik Indonesia saja. Hal ini bisa dikomparasikan dengan istilah emas Papua, dalam hal ini pertambangan emas di Mimika.

Seharusnya di sini juga berlaku fatsun itu, dengan segala keberkahannya. Minyak Riau untuk Riau dan Indonesia. Riau harus kuat dan bulat, jangan lengah dan lemah. **

 
 
Lainnya :
  • Apakah Chevron Benar-benar Pergi?
  •  
     
     
    Sabtu, 18-09-2021 | Jam Digital
    PEDOMAN MEDIA SIBER
    © 2015-2020 PEKANBARUSATU.COM, All Rights Reserved