Takdir Politik Septina Primawati
Selasa, 29-12-2015 - 22:04:08 WIB

Oleh: Novrizon Burman

PROVINSI
Riau sedang menanti tertorehkannya sebuah catatan sejarah baru: seorang perempuan dikukuhkan sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau masa bakti 2014-2019, sebagai PAW (pengganti antar waktu) dari ketua sebelumnya, Suparman, yang menyatakan mengundurkan diri lantaran maju di ajang Pilkada Rokan Hulu 2015.

Berbekal surat dari DPP Partai Golongan Karya Nomor 330/DPP Golkar/XI/2015, Dra Hj Septina Primawati MM, sosok dimaksud, hanya tinggal menunggu waktu untuk dikukuhkan sebagai ketua lembaga legislatif tingkat provinsi. Kendati belum dilantik, tapi karangan bunga ucapan selamat untuk Septina sudah terpajang anggun di DPRD Riau.

Menjadi sejarah, karena kalau kelak Septina jadi dikukuhkan sebagai Ketua DPRD Riau, ialah perempuan pertama di daerah ini yang memimpin lembaga dewan sejak Riau resmi berdiri sebagai sebuah provinsi otonom, terpisah dari Provinsi Sumatera Tengah. Bukan hanya untuk tingkat provinsi, tapi DPRD semua kabupaten/kota di Provinsi Riau juga belum pernah dipimpin oleh perempuan.

Dalam internal Partai Golkar sendiri, pengukuhan Septina kelak juga mungkin akan menjadi ''sejarah.'' Tak diusulkan oleh DPD I Partai Golkar Riau untuk dicalonkan sebagai Ketua DPRD Riau, kalau kemudian DPP Golkar menetapkan nama Septina sebagai calon, wajar saja penetapan Septina mengundang kontroversi.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang ada, dan mungkin saja akan tetap menggelinding, jabatan Ketua DPRD Riau yang kelak akan dipikul oleh Septina dinilai sebagai ''ganjaran'' yang pas atas pengalamannya yang panjang bergelut di dunia politik praktis, baik langsung atau pun tidak langsung.

Septina lah, antara lain, sebagai saksi sejarah yang paling dekat dengan apa yang disebut dengan peristiwa ''September Kelabu.'' Dinyatakan memenangkan pemilihan Gubernur Riau kala itu, kalau kemudian Ismail Suko (ayahanda Septina, yang kini sudah almarhum) dimakzulkan oleh Pemerintah Pusat, secara psikis dan politis Septina ikut merasakan secara langsung dampak dari peristiwa itu, karena dia adalah puteri kandung dari sang tokoh utama.

Septina juga tercatat sebagai pendamping setia dari tokoh muda Riau yang banyak meletakkan kerangka landasan yang kuat untuk pembangunan Riau hari ini dan ke depan. HM Rusli Zainal SE MP, yang tak lain adalah suami Septina, tercatat selama dua periode berturut-turut dipercaya menjadi Gubernur Riau, dan selama itu pula Septina berada di pusaran yang paling dekat dalam elan vital sejarah kepemimpinan Rusli di Riau.

Pun ketika Rusli Zainal terperangkap dalam jerat kasus korupsi, Septina pula yang menjadi pendamping yang paling dekat, dalam suka dan duka. Juga ketika sejumlah orang yang selama ini tak pernah lelah mengambil hati, untuk dan demi target-target tertentu; lalu kemudian orang-orang itu menjauh secara perlahan karena kasus yang membelit Rusli, Septina jugalah yang tahu banyak tentang itu.

Ketika sebuah ''drama politik'' yang bernama Pemilihan Wali Kota Pekanbaru 2011 seakan ''mempermalukan'' Septina, tak ada reaksi emosional yang mencuat dari tokoh yang berpenampilan kalem ini. Kalah pada pemungutan suara putaran pertama, dan kalah lagi ketika digelar PSU (pemungutan suara ulang) --karena MK menganulir keputusan KPU Pekanbaru memenangkan pasangan Firdaus dan Ayat Cahyadi--, Septina tetaplah Septina: pribadi yang tegar dalam menghadapi realitas politik apapun, bahkan yang paling buruk sekalipun.

Tak ada pula kasak-kusuk, lobi sana-sini, apalagi manuver, dari seorang Septina dan orang-orang terdekatnya ketika DPD I Golkar Riau sibuk mencari sejumlah sosok yang dianggap pas sebagai calon Ketua Parlemen Riau, buat menggantikan ketua sebelumnya, Suparman, yang mengundurkan diri. Ketika namanya tidak dimasukkan DPD I Golkar Riau di antara tiga nama yang diusulkan ke DPP, Septina juga adem-adem saja.

Lebih dari itu, ketika jagad politik di Provinsi Riau dihebohkan oleh keputusan DPP Golkar yang menunjuk Septina sebagai calon Ketua DPRD Riau, padahal namanya tak diusulkan oleh DPD I Golkar Riau, Septina juga tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Jawaban, ''Saya belum ada mendapatkan SK-nya,'' yang dilontarkan ketika menjawab pertanyaan media, menyiratkan satu hal: kematangan seorang Septina dalam memainkan peran sebagai seorang politisi lokal yang andal.***

 
 
Lainnya :
  • Takdir Politik Septina Primawati
  •  
     
     
    Kamis, 19-Mei-2022 | Jam Digital
    PEDOMAN MEDIA SIBER
    © 2015-2020 PEKANBARUSATU.COM, All Rights Reserved