Menyimak Langkah Septina Primawati
Selasa, 25-10-2016 - 19:47:51 WIB

Oleh: Novrizon Burman.

PELANTIKAN
dan pengambilan sumpah jabatan Dra Hj Septina Primawati MM sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau yang dilakukan dalam sidang paripurna istimewa DPRD Riau di Pekanbaru, Senin (24/10/2016) pagi, menorehkan sejumlah catatan penting. Tak sebatas sentimen gender --karena Septina tercatat perempuan pertama yang memimpin DPRD Riau--, lebih dari itu: posisi sebagai ketua lembaga terhormat tersebut tak dengan lempang saja diduduki Septina.

Terlalu banyak fiksi, tarik-ulur, maju-mundur, yang tak jarang membuat pemikiran banyak orang lari pada satu kesimpulan: apa jadi Septina akan dikukuhkan sebagai Ketua DPRD Riau? Ketiadaan namanya di jajaran pengurus DPD I Partai Golkar Riau, merupakan persoalan lain yang ikut menghalangi langkah Septina untuk menuju kursi ketua.

Tidak kurang, kasus korupsi yang menimpa HM Rusli Zainal SE MP, yang tak lain adalah suami tercinta Septina, ikut meramaikan ''suara-suara sumbang'' terhadap Septina. Sebagaimana diketahui, oleh karena kasus korupsi yang dituduhkan padanya, Rusli Zainal yang mantan Gubernur Riau dua periode berturut-turut itu sampai sekarang masih ''berumah'' di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Pekanbaru.

''Disharmonisasi'' --diakui atau tidak-- antara Septina dan Ketua DPD I Partai Golkar Riau, Arsyadjuliandi Rachman yang juga menjabat Gubernur Riau, merupakan ''sisi tersendiri'' yang ikut mewarnai langkah politik Septina menjadi figur yang menduduki posisi tertinggi di jajaran legislatif tingkat Provinsi Riau.

Tapi semua riak dan dinamika itu, yang mewarnai hari-hari pemberitaan media massa lokal, telah berakhir menyusul dilantik dan diambilnya sumpah jabatan Septina sebagai Ketua DPRD Riau. Septina dilantik dan diambil sumpah jabatannya sebagai Ketua DPRD Riau untuk menjadi PAW (pengganti antar waktu) Suparman, yang mundur sebagai Ketua DPRD Riau karena memilih ikut Pilkada Rokan Hulu-- belakangan Suparman juga ditahan KPK dalam kasus dugaan suap pengesahan RAPBD Riau.

Maka, catatlah ini: perempuan yang jarang dipercaya menduduki posisi-posisi strategis di Riau, baik di pemerintahan, legislatif, dan institusi formal dan non-formal lainnya, hari ini terjawab dengan dipercayakannya posisi ketua Parlemen Provinsi Riau kepada Septina; sosok perempuan yang banyak memberi warna ketika menjabat sebagai Ketua TP-PKK Riau, buat mendampingi suaminya yang menjalankan tugas dan fungsi sebagai Gubernur Riau, beberapa tahun lalu.

Dan menjabat sebagai Ketua DPRD Riau, yang hari ini resmi disandang oleh Septina, bukan langkah pertama yang ia ayunkan di kancah politik praktis. Beberapa tahun lalu, Septina --berpasangan dengan Erizal Muluk-- juga mempertaruhkan nasib bertarung di ajang Pilwako Pekanbaru, yang kemudian --melalui dua kali pemungutan suara menyusul putusan MK-- dikalahkan oleh pasangan Firdaus dan Ayat Cahyadi yang sampai saat ini masih memimpin ibukota Provinsi Riau itu.

Apakah peristiwa politik yang dialami Septina hari ini merupakan satu tahapan untuk menuju tujuan yang lebih besar lagi? Menuju kursi Riau 1 (baca: Gubernur Riau), satu misal?

Sesuatu prediksi yang tak berlebihan, sepertinya. Melirik track record, merujuk latar belakang (Septina puteri tokoh September Kelabu, Ismail Suko), ditambah dengan kemampuan akedemis yang tinggi dan pengalaman yang teruji, Septina bukanlah sosok yang ''kemarin-sore'' di panggung politik praktis, khususnya di Provinsi Riau.

Tapi nantilah soal itu, saat ini mari semua kita berbangga hati melihat lembaga seterhormat DPRD Provinsi Riau dipimpin oleh wanita berpendidikan tinggi, kalem, keibuan, penyayang, berpengalaman, penyantun, seperti kepribadian yang hari-hari dipertunjukkan oleh Septina.***

 
 
Lainnya :
  • Menyimak Langkah Septina Primawati
  •  
     
     
    Kamis, 19-Mei-2022 | Jam Digital
    PEDOMAN MEDIA SIBER
    © 2015-2020 PEKANBARUSATU.COM, All Rights Reserved