Kembali ke Fitrah
Selasa, 27-06-2017 - 13:22:44 WIB

Oleh: Novrizon Burman

KITA, disengaja atau tidak disengaja, disadari atau tidak disadari, sering kali terjebak pada segala sesuatu yang bermain pada tataran kulit luar, dan tidak menyentuh hal-hal yang bersifat substansial. Ironisnya, sebagian dari sikap itu cenderung menjadi tradisi atau gaya hidup.

Menyikapi Hari Raya Idul Fitri setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, satu misal, betapa banyak di antara kita yang menempatkan peristiwa yang terjadi sekali setahun dalam penanggalan Hijriyah itu sebagai momen untuk menunjukkan 'keakuan' kita kepada publik. Utamanya, mampu menunjukkan segala hal yang berlebih dalam konteks material-finansial.

Sah-sah saja bagi yang memiliki kemampuan finansial berlebih-- kendati sebenarnya tidaklah elok-alok amat kalau dilakukan secara berlebihan. Masalah menjadi lain bagi mereka yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas, apalagi yang tergolong kekurangan. Yang sering terjadi kemudian adalah 'tidak ada kayu, jenjang dikeping.' Tak ada kemampuan ekonomi untuk menunjukkan 'keakuan' dalam menghadapi hari raya yang juga disebut dengan Lebaran itu, cara-cara tak benar pun dilakukan.

Maka, peristiwa Idul Fitri yang pada dasarnya sarat dengan muatan-muatan sakral, ternodai hanya untuk memburu atau mengejar hal-hal yang pada dasarnya hanya merupakan kulit luar. Idul Fitri yang sejatinya momen untuk membersihkan segala sesuatu yang bertentangan dengan risallah agama, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Tidak ada dalil atau landasan hukum agama yang menganjurkan untuk 'berhabis-habisan' menghadapi Lebaran, apalagi dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan itu. Boleh saja membeli segala sesuatu yang baru atau yang berlebih dibandingkan dengan hari-hari biasa, atau menyiapkan hidangan yang lezat-lezat, dan sejenisnya, tapi hanya sebatas kemampuan yang dimiliki.

Maha Besar Allah SWT, yang menjadikan segala sesuatu itu tidak sama dikarenakan di dalam ketidaksamaan itu terjadi akan harmonisasi kehidupan yang indah. Ketidaksamaan juga membuat antara satu makhluk dengan makhluk lain memiliki saling ketergantungan. Ketidaksamaan akan mendatangkan toleransi, saling kasih-mengasihi, saling sayang-menyangi, dan saling melindungi.

Maka, ketika fajar Idul Fitri 1438 Hijriyah menyingsing di ufuk timur, Minggu (25/6/2017) besok, setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan, yang pantas kita lakukan adalah menyambut fajar Idul Fitri itu sebagai momen untuk kembali ke fitrah.

Fitrah kita sebagai manusia, sebagaimana yang diajarkan oleh agama Islam, merupakan hamba Allah SWT, dan keberadaan kita --yang sejatinya sangat singkat di muka bumi ini-- semata hanya untuk mengabdi, menyembah, dan membesarkan Sang Pencipta.

Kita sebagai manusia yang dhoif dan penuh dosa, tempat berlabuhnya aneka kesalahan dan kekeliruan, dengan ikhlas dan penuh ketakwaan kepada Allah SWT telah melakukan 'penyucian' dosa melalui ritual puasa Ramadhan, dan amalan-amalan lain sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Ampunan dari Allah SWT diperoleh melalui serangkaian amalan-amalan yang telah diajarkan, sedangkan permohonan maaf dari sesama manusia diperdapat setelah langsung meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Puasa Ramadhan, selain sebagai wujud penghambaan kepada Allah SWT dan pengakuan secara totalitas akan kebesaran dan keagungan-Nya, juga sebagai representasi untuk ikut merasakan penderitaan serba kekurangan yang sering dirasakan oleh hamba Allah SWT yang lainnya.

Maha Besar Allah SWT, yang menjadikan Idul Fitri setiap tahunnya, momen di mana diharapkan mampu mengembalikan kesadaran umat manusia tentang siapa dirinya, apa hakekat dan tujuan keberadaannya di muka bumi. Idul Fitri adalah momen bagi manusia untuk kembali ke fitrah, dan semoga semua itu dilakukan dengan kesadaran yang penuh, dan jangan sampai 'ternodai' hal-hal yang bersifat kulit luar dan tidak substansif.

Selamat Idul Fitri 1438 H, Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin. ***

 
 
Lainnya :
  • Kembali ke Fitrah
  •  
     
     
    Kamis, 19-Mei-2022 | Jam Digital
    PEDOMAN MEDIA SIBER
    © 2015-2020 PEKANBARUSATU.COM, All Rights Reserved